Oleh : Heni Purwaningsih
Cukup lah aku tak ingin kau menghancurkan senjaku. Dulu
memang kita pernah bersama tapi kau telah menodainya dan sekarang kau datang
untuk meminta segelas cinta? Sampai berlututpun aku tak akan pernah
memberikannya. Aku tak percaya akan cintamu.
***
Aku lirik jam tangan bundar usang pemberian mendiang Bunda.
Aku percepat langkahku menuju kantor seperti biasa. Aku mendapatkan pekerjaan
sebagai sekertaris disalah satu perusahaan yang baru saja berdiri. Kebetulan
pendirinya adalah pamanku sendiri. Aku bekerja sama dengan salah seorang
anaknya namanya Johan. Dia pria yang begitu ambisius dengan keinginnanya.
Bahkan aku selalu dibuat sempoyongan dengan apa yang ia perintahkan. Hampir
mati berdiri, apa yang dilakukan haruslah sempurna. Padahal semua butuh suatu
proses dan waktu, tapi tidak untuknya.




