Lorong Cinta

Posted Monday, August 13, 2012 by Heni Puwaningsih


 Oleh : Heni Purwaningsih 


Aku biarkan air hujan menetes membasahi wajahku, akan aku biarkan butir-butir yang terhempas angin serasa menusuk-nusuk kulitku hingga masuk kedalam tulang. Aku hanya ingin sendiri dan menangis disini. Merasakan semuanya menjadi ketidak mungkinan.
Serasa lelah langkah ini terus dipaksa. Akan kemanapun tidak akan menjadi mungkin. Karena baginya aku adalah sebuah robot, suatu objek pelampiasan kehidupannya dimasa lalu. Inginku terobos setiap lorong waktu. Kembali kemasalalu dan ku pinta Tuhan tidak pernah ciptakan aku di dunia.
Bolehkah?

Biarkan Aku Menari Bersama Bintang

Posted Saturday, August 11, 2012 by Heni Puwaningsih



Oleh : Heni Purwaningsih 

Cukup lah aku tak ingin kau menghancurkan senjaku. Dulu memang kita pernah bersama tapi kau telah menodainya dan sekarang kau datang untuk meminta segelas cinta? Sampai berlututpun aku tak akan pernah memberikannya. Aku tak percaya akan cintamu.
***
Aku lirik jam tangan bundar usang pemberian mendiang Bunda. Aku percepat langkahku menuju kantor seperti biasa. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai sekertaris disalah satu perusahaan yang baru saja berdiri. Kebetulan pendirinya adalah pamanku sendiri. Aku bekerja sama dengan salah seorang anaknya namanya Johan. Dia pria yang begitu ambisius dengan keinginnanya. Bahkan aku selalu dibuat sempoyongan dengan apa yang ia perintahkan. Hampir mati berdiri, apa yang dilakukan haruslah sempurna. Padahal semua butuh suatu proses dan waktu, tapi tidak untuknya.

_-_ Serpih Harapan _-_

Posted Thursday, August 9, 2012 by Heni Puwaningsih


Oleh Heni Purwaningsih 

Jika mencintaimu adalah mimpi bagiku 
Ijinkan aku tuk tertidur selamanya
Agar aku bisa mencintaimu selamanya


Goresan Tinta di istana Kecilku

Posted by Heni Puwaningsih

Oleh : Heni Purwaningsih

Terlalu sering aku bertatap kearah cermin. Entah apa yang aku rasa, apa yang aku lihat, selalu sama setiap harinya KOSONG. Detak jantungku terasa berhenti bergetar. Sesaat aku mengingat tragedi lima tahun yang lalu. Begitu perih goresan tinta hitam itu, menyayat, mencabik, hingga ku lemas dalam satu keadaan.

Comments