Dalam Sahjadah Cinta

Posted Tuesday, October 22, 2013 by Heni Puwaningsih


Oleh : Heni Purwaningsih


Semilir angin selalu menghembuskan namamu
Cahanya bintang datang menyapa keindahan malam
Tak pernahku tahu
Akan rasa yang menghela nafasku



Aku tengadahkan tangan tuk berdoa
 Setiap malam dalam peraduan mata yang sahdu
Memancarkan cerminan kegalauan


Oh Tuhan,
Akan kapan dan bagaimana caranya
Engkau jawab semua pertanyaan
Dalam bait doa yang kulantunkan


 Siapakah pemilik dari tulang rusukku
 Yang akan meluruskan perlahan
 Tulang itu dalam jalan-Mu


Seandainya dia yang ku sebut dalam doaku
Bukanlah jodohku
Hamba mohon hilangkanlah rasa yang hinggap dalam batinku selama ini
Dan seandainya Engkau takdirkan kita tuk bersama
Persatukanlah kita dalam sahjadah cinta
Suci yang Engkau ciptakan

Tentang Kita

Posted by Heni Puwaningsih


Karya Heni Purwaningsih

 

 

Cahaya mentari kian menyingsing

Meletup suara sahdu dalam serambi syukur


Terngiang akan kenangan dimasa lalu

Membuat jantung ini bergetar

 

Kenangan indah menoreh bahagia

Ukiran bait cerita tentang kita tak akan pudar

Walau saat kita beruban

Tuli, tak dapat berdiri tegak

Menitih detir kehidupan yang mengecam

 

Aku tak akan menghapus memori panjang

Yang terukit dalam sanubari

Walau kau tak menginginkannya

 

Ribuan harap tersentak dalam batin

Meski sulit tuk digapai

Tuk menyakinkan kau

Bahwa aku menyayangimu


           

Lorong Cinta

Posted Monday, August 13, 2012 by Heni Puwaningsih


 Oleh : Heni Purwaningsih 


Aku biarkan air hujan menetes membasahi wajahku, akan aku biarkan butir-butir yang terhempas angin serasa menusuk-nusuk kulitku hingga masuk kedalam tulang. Aku hanya ingin sendiri dan menangis disini. Merasakan semuanya menjadi ketidak mungkinan.
Serasa lelah langkah ini terus dipaksa. Akan kemanapun tidak akan menjadi mungkin. Karena baginya aku adalah sebuah robot, suatu objek pelampiasan kehidupannya dimasa lalu. Inginku terobos setiap lorong waktu. Kembali kemasalalu dan ku pinta Tuhan tidak pernah ciptakan aku di dunia.
Bolehkah?

Biarkan Aku Menari Bersama Bintang

Posted Saturday, August 11, 2012 by Heni Puwaningsih



Oleh : Heni Purwaningsih 

Cukup lah aku tak ingin kau menghancurkan senjaku. Dulu memang kita pernah bersama tapi kau telah menodainya dan sekarang kau datang untuk meminta segelas cinta? Sampai berlututpun aku tak akan pernah memberikannya. Aku tak percaya akan cintamu.
***
Aku lirik jam tangan bundar usang pemberian mendiang Bunda. Aku percepat langkahku menuju kantor seperti biasa. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai sekertaris disalah satu perusahaan yang baru saja berdiri. Kebetulan pendirinya adalah pamanku sendiri. Aku bekerja sama dengan salah seorang anaknya namanya Johan. Dia pria yang begitu ambisius dengan keinginnanya. Bahkan aku selalu dibuat sempoyongan dengan apa yang ia perintahkan. Hampir mati berdiri, apa yang dilakukan haruslah sempurna. Padahal semua butuh suatu proses dan waktu, tapi tidak untuknya.

Comments